SAYA TIDAK BERSALAH ! : Cerita Perempuan Korban Tragedi ‘ 65

“Saya empat belas tahun ditahan dan sampai sekarang belum mendapatkan keadilan bahwa saya tidak bersalah…!” begitulah kata ibu Mudjiati yang sudah tua masih semangat dan tidak pernah putus asa. Ibu Mudjiati ini merupakan  korban dari tragedi peristiwa 65.

Peristiwa 1965 merupakan peristiwa dimana Partai Komunis Indonesia (PKI) telah dituding melakukan pemberontakan dan aksi pembunuhan tujuh jenderal yang dimasukkan ke dalam lubang buaya. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat kepada PKI hingga timbul demonstrasi-demonstrasi besar. Demonstrasi itu salah satunya menuntut pembubaran PKI beserta organisasi massa (ormasnya) dan tokoh-tokohnya harus diadili.

Dalam buku pelajaran sejarah di sekolah, Untuk mengisi kekosongan Pimpinan Angkatan Darat, pada tanggal 14 oktober 1965, Panglima Kostrad/Pangkopkamtib Mayor Jenderal Soeharto diangkat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat. Bersamaan dengan itu juga dilakukan tindakan-tindakan pembersihan terhadap unsur-unsur PKI dan ormasnya.

Masyarakat luas yang terdiri dari berbagai unsur seperti kalangan partai politik, organisasi masa, perorangan, pemuda, mahasiswa, pelajar, kaum wanita secara serentak membentuk satu kesatuan aksi. Kesatuan aksi tersebut untuk menghancurkan para pendukung Gerakan 30 September 1965/PKI yang diduga didalangi oleh PKI. Mereka menuntut dilaksanakannya penyelesaian politis terhadap mereka yang terlibat dalam gerakan itu.

Saya mengenal Ibu Mudji dalam acara Pekan Melawan Lupa bersama KIPAS (Kelompok Insan Pemerhati Seni). Acara itu merupakan malam pentas seni yang sebagai penutup pekan peringatan atas tragedi kemanusiaan masa lalu yang diselenggarakan tanggal 4 Oktober 2010 di Pusat Perifilman H. Usmar Ismail. Ibu Mudji dan saya mengisi acara tersebut di mana beliau memberikan kesaksian dalam bentuk testimoni musikalisasi. Acara itu disutradarai oleh Madia Patra Ismar diiringi teman-teman KIPAS dan vokal Party 6 dengan penata musik Harry Pattirajawane.

Ibu Mudjiati yang sudah tua, kulitnya yang keriput, memakai kaca mata, dan rambutnya yang sudah mulai beruban ini kegiggihannya sangatlah tinggi. Ketika Ibu Mudji dan saya latihan untuk pentas, kisah nyata yang diceritakannya itu saya masih ingat sampai sekarang. Dimulai sejak kami latihan kami duduk berdua sambil minum teh, lalu mulailah saya melakukan wawancara dengan beliau. Ia berkata “Nak, nenek pada saat itu berusia 17 tahun, sebelum nenek dituduh paksa lalu ditahan, nenek mengikuti kegiatan-kegiatan di tingkat RT, seperti menyanyi dan menari.” ucap ibu Mudji, yang saya panggil nenek. “Memang seperti apa nek tari dan lagunya?” tanyaku pada ibu Mudji. ”Sebenarnya nenek banyak yang sudah lupa nak lagunya apa saja tapi nenek ingat yang judulnya Blonjowurung, artinya belanja gak jadi” jawab ibu Mudjiati.” Ada juga yang judulnya Iki Piye” tambah Ibu Mudji. Lagu Iki Piye ini sangatlah menarik karena ada pesan di dalamnya.

Iki Piye Iki Piye Iki Piye

Sandang Pangan Larange Koyongene

Akibate Salah Urus Lan OKB                                                       

Ayo Konco Kodo Diganyang Wae                                                                                                     

Begitulah lagunya, lagu yang mudah di hafal, nadanya menarik, dan yang lebih penting memiliki pesan di dalamnya. Contohnya dari kata OKB  singkatan dari Orang Kaya Baru. Orang yang menjadi kaya dengan menyalahgunakan uang negara alias koruptor.

Dengan duduk berdua di atas tikar, beliau berkata “Nenek masih ingat nak, pada malam harinya para petugas mengepung rumah nenek. Petugas itu  membawa senjata dan memakai seragam tentara” ucap ibu Mudji. “Mereka memasuki rumah nenek lalu berkata, kami minta ibu untuk di minta keterangan selama tiga jam” begitulah kata ibu Mudji tentang awal terjadinya penahanan beliau.

Ibu Mudji dibawa ke Kodim setelah dari Kodim beliau lalu dibawa ke Bukit Duri yang berada di Jakarta Selatan. Di sana ada sekitar 150 orang yang di penjara. “Di Bukit Duri nenek dan tahanan lainnya juga pernah diberi makan menir nak, kamu tahu nak apa makanan menir itu?” Tanya ibu Mudji “Tidak nek saya tidak tahu” jawab saya tak mengerti. “Jadi nak, makanan menir itu nasi campur pasir supaya pasir-pasirnya itu terpisah dari nasi maka harus diberi air dulu, dan itu pun hanya muat dua sendok makan.” Jawab ibu Mudji.

Di Bukit Duri tahanannya ada yang sudah renta, bahkan ada pula ibu yang sedang hamil. Sampai pernah beberapa bayi yang dititipkan ke petugas lalu meninggal di penjara akibat kekurangan gizi, pelayanan, dan faktor lainnya. “Di sana nenek punya teman yang namanya Solawati” ucap ibu Mudji “Dia siapa nek, kenapa ditahan?” tanyaku penasaran. “ Ia seorang bidan yang membantu para wanita ibu hamil” jawab ibu Mudji. “Nasibnya sama seperti nenek ia dituduh telah menari Harum Bunga di Lubang Buaya, Ibu Solawati juga merupakan seorang mantan walikota wanita pertama yang mendapatkan bintang maha putra” ucap Ibu Mudji semangat.

Kaitan tarian Harum Bunga ini dengan peristiwa di Lubang Buaya merupakan sebuah tari perayaan atau seperti tari kegembiraan bahwa telah terbunuhnya para Jenderal. Tari Harum Bunga itu ditarikan di Lubang Buaya yaitu tempat pembuangan para Jenderal. Begitu juga dengan nyanyian lagu Genjer-Genjer yang juga dituduh sebagai perayaan kematian para Jenderal yang dinyanyikan di Lubang Buaya. Padahal menurut beberapa penelitian berdasarkan wawancara dengan beberapa korban tarian Harum Bunga yang dituduhkan dan ditarikan di Lubang Buaya tersebut merupakan rekayasa dan fitnah yang ditujukan untuk pembenaran penangkapan anggota Gerwani dan korban lainnya yang merupakan perempuan.

Ibu Mudji berada di Bukit Duri kurang lebih selama 10 (sepuluh) tahun. Beliau ditahan mulai dari tahun 1965 sampai 1975. Kemudian ia dibawa ke tempat yang berikutnya yaitu Plantungan. Beliau dipindahkan ke te Plantungan pada tanggal 4 April 1975 jam 4 pagi dari Jakarta ke Cirebon lalu ke Tegal lalu Batalyon 4 (empat). Tempatnya berada di Jawa Tengah, bekas rumah sakit lepra pada zaman Belanda.

Di Plantungan para tahanannya dibentuk unit-unit dari berbagai macam bidang untuk kegiatan para tahanan berdasarkan kemampuan dan keahliannya masing-masing. Di sana pun ada yang selain keluarga untuk mengunjungi para tahanan yaitu Palang Merah Internasional (International Red Cross). PMI ini datang untuk memberikan bantuan sandang pangan, obat-obatan dan sebagainya. Apabila ada PMI yang bertanya apakah ada yang bisa berbahasa asing? Para tahanan harus menjawab tidak bisa. Karena ditakutkan para tahanan akan menceritakan yang sebenarnya mereka alami selama ditahan. Padahal ada banyak dari mereka yang bisa berbahasa asing. Oleh karena itu petugaslah yang menceritakan keadaan para tahanan kepada PMI jika PMI bertanya.

Ibu Mudjiati akhirnya keluar pada akhir 1979, ia bebas karena desakan internasional tapol (tahanan politik) harus bebas. “Nenek masih ingat ketika nenek sebelum di bebaskan dari penjara, nenek mendapat surat dari teman tahanan nenek yang sudah bebas duluan dalam surat itu ia bilang kalau ia mau menikah” ucap ibu Mudjiati yang lalu mengeluarkan air mata. “Nenek di situ benar–benar pedih, sedih, rasanya, kenapa saya belum juga dibebaskan saya yang tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa belum juga dibebaskan sampai sekarang tapi sedangkan teman saya sudah bebas bahkan mau menikah.” cerita ibu Mudjiati dengan meneteskan air mata.

Setelah mencari tahu dari internet Wawasan di google pada peristiwa 1965 ini   merupakan peristiwa yang bermula dari perebutan kekuasaan, dan rasa benci pemerintah barat terutama AS dan Inggris yang ingin menjatuhkan presiden Soekarno pada waktu itu. Diketahui bahwa Indonesia pada era Soekarno terkenal sebagai pemimpin dunia ketiga yang berani menantang AS dan Inggris secara tiba-tiba tunduk kepada dominasi AS.

Kemudian timbulah pelanggaran-pelanggaran HAM yang menurut saya pelanggaran HAM berat karena pada saat itu banyak sekali aksi 3B yaitu Bui, Bunuh, dan Buang. Sangat banyak korban tragedi kemanusiaan 1965 yang tak bersalah tetapi dituduh dan dipaksa mengakui sebagai PKI dan tanpa proses pengadilan. Apalagi sebagian dari mereka yang di tahan merupakan pendukung dari Presiden Soekarno dan bukan anggota PKI. Tapi sebagian yang lainnya memang anggota PKI atau anggota-anggota organisasi yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Namun rata-rata mereka tidak tahu menahu tentang peristiwa penculikan dan pembunuhan para Jenderal yang terjadi di Jakarta dini hari 1 Oktober 1965.

Hal-hal seperti ini memperkuat dugaan bahwa peristiwa 65 direncanakan demi perebutan kekuasaan. Hingga lahirlah Orde Baru yang di mana masa pemerintahannya membungkam rakyat untuk berdemokrasi, bermusyawarah. Rakyat harus tunduk kepada pemerintah dan bila menentang kemungkinan akan ada aksi 3B: Bui, Bunuh, Buang.

Pengungkapan peristiwa korban tragedi 1965 ini bertujuan untuk menegakkan sejarah agar tidak ada lagi penyelewengan fakta yang sebenarnya. Memberitahu siapa dan bagaimana penyebab awal dari tragedi kemanusiaan ini terjadi, dan ini tentu tidak bisa di biarkan.“Mau sampai kapan peristiwa tragedi kemanusiaan ini disepelekan?” “Kenapa pemerintah Indonesia lalai dalam pengusutan tuntas peristiwa-peristiwa tragedi seperti ini?” Bila peristiwa tragedi seperti ini tidak segera dicegah agar tidak terulang kembali maka di masa yang akan datang kita akan terus dihantui kejadian-kejadian seperti pada masa rezim orde baru yaitu masa yang dilanda ketakutan, kecemasan dan menimbulkan korban kekerasan HAM.

Untuk itu, jangan pernah musnahkan demokrasi. Biarkan rakyat berpendapat, mengkritik, dan mengungkapkan seluruh pikiran dan isi hatinya untuk bangsa dan negara yang lebih maju dan sejahtera. Selalu mengutamakan rakyat, terutama mengutamakan Hak Asasi Manusia. Adil dan bijaksanalah untuk seluruh rakyat Indonesia. Ungkapkan peristiwa tragedi kemanusiaan 1965 yang sebenarnya terjadi bila ada penyelewengan dalam sejarah tuntaskanlah dengan benar. Bisa dengan mengumpulkan para korban tragedi kemanusiaan 65, para saksi, dan bukti-bukti nya.

Selanjutnya peristiwa 65 ini seharusnya disikapi  dengan mendorong Mahkamah Agung mengeluarkan surat tentang permohonan rehabilitasi korban peristiwa  65. Dalam pemberian rehabilitasi itu, berdasarkan Pasal 14 Ayat (1) UUD 1945 yang sudah diamandemen, sebenarnya Presiden RI dapat memberikan rehabilitasi bila telah mendapat rekomendasi dari MA. Pasal 14 UUD 1945 yang sudah diamandemen berkaitan dengan hak prerogatif presiden: Ayat (1), Presiden memberikan Grasi dan Rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung. Ayat (2), Presiden memberikan Amnesti dan Abolisi dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat.

Alasan yang bisa diajukan MA mengirim surat ini adalah (1) untuk memberikan penyelesaian dan kepastian hukum yang dapat memulihkan status dan harkat mereka sebagai warga negara yang sama dan (2) didorong semangat rekonsiliasi bangsa. Informasi ini didapatkan dari internet pada coup d’etat kolektif info yang dipublikasikan tanggal 10 September 2006. Maka dari  itu seharusnya surat rehabilitasi ini perlu diusahakan dari sekarang. Supaya peristiwa tragedi 65 ini semakin kuat kebenarannya dengan adanya surat rehabilitasi itu.

Wajibkan seluruh generasi muda untuk mengetahui peristiwa 65 yang sebenarnya terjadi dan tuntunlah para generasi muda bagaimana agar peristiwa ini tak terulang kembali di masa yang akan datang. Aktifkanlah siswa kepada kegiatan yang terkait dengan sejarah misalnya, menonton peristiwa tragedi 1965 yang sebenarnya terjadi seperti menonton film Shadow Play. Mendiskusikan peristiwa ini sebagai tugas pelajaran PPKN atau Sejarah dengan mengemukakan dari berbagai pendapat para siswa tentang peristiwa tragedi tersebut. Hal ini supaya munculnya rasa keingintahuan dan kepedulian terhadap peristiwa-peristiwa tragedi kemanusiaan.

Mulailah dari sekarang kita berjuang dan berani untuk menceritakan kebenaran tragedi 1965 ini. Ingat pepatah dari bapak presiden Soekarno “Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”.Ungkapan itu mengartikan bahwa generasi muda sangatlah penting dalam berperan memajukan dan mensejahterakan bangsa dan negara.

Kita adalah saudara, satu bangsa, satu jiwa mari kita ungkapkan peristiwa tragedi kemanusiaan ini demi masa depan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Penulis : Taris Zakira Alam (SMA Triguna Utama),Juara I tingkat SMA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: